Jumat, 06 Januari 2017

LAPORAN INSTRUMENTASI : Rangkaian Jembatan Wheatstone II

LAPORAN INSTRUMENTASI
Rangkaian Penguat Jembatan
Dosen Pengampu : Bekti Wulandari, M. Pd






Diusulkan oleh :
Imania Diah Rachma
(15507134009)
B1/2015



PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTONIKA & INFORMATIKA
TEKNIK ELEKTRONIKA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017

A.  Kompetensi
Menjelaskan karakteristik rangkaian penguat jembatan.

B.     Sub Kompetensi
1.      Menjelaskan cara kerja rangkaian penguat jembatan
2.      Menggambarkan kurva karakateristik hubungan antara perubahan tahanan input terhadap tegangan output.
C.  Dasar Teori
Rangkaian penguat jembatan pada dasarnya adalah penguat beda, atau penguat selisih, difference amplifier, differential amplifier, atau substractor. Tegangan output penguat ini proporsional dengan perbedaan atau selisih tegangan antara V1
dan V2.


Untuk menentukan hubungan antara tegangan output Vout dengan V1 dan V2 digunakan prinsip superposisi, dengan aturan sebagai berikut:
·         Bila V1 dipakai, maka V2 disambung ke 0 V (Ground) dan tegangan output=Vout1.
·         Bila V2 dipakai, maka V1 disambung ke 0 V (ground) dan tegangan output=Vout2.
·         Tegangan output Vout= Vout1 + Vout2
Bila V1 dipakai, maka V2 disambung ke 0 V (Ground) dan tegangan output = Vout1, maka diperoleh: Vo=V01=-R2/R1V1               ...............................................1

Bila V2 dipakai, maka V1 disambung ke 0V (ground) dan tegangan output = Vout2, maka diperoleh : Vo=V02=(R1/(R1+R2))xVo2            ...............................................2
V+=(R2/(R1+R2))xV2
Karena berlaku:
                        V_=V+ maka berlaku (R1/(R1+R2))xVo2=(R2/(R1+R2))xV2
Sehingga akan diperoleh:
                        Vo2=(R2/R1)xV2
Sehingga Vout=Vo1+Vo2=(R2/R1)xV2-(R2/R1)xV1 atau
                        Vout=(R2/R1)x(V2-V1).......................................................................3
Dalam prakteknya tegangan V1 dan V2 adalah tegangan output rangkaian jembatan Wheatstone.
                       
D.   Alat dan Bahan
1.      Papan percobaan IC
2.      Ic 741
3.      Power Supply DC
4.      Multimeter
5.      Dekade Resistor
6.      Resistor :              - 1 Kilo ohm                5 buah
                             - 10 kilo ohm               2 buah
                             - 100 kilo ohm             2 buah
                             - 100 kilo ohm pot       1 buah

E. Keselamatan Kerja
1.      Multimeter dalam pengukuran posisi saklar fungsi harus sesuai dengan besaran yang diukur, tegangan DC atau tegangan AC, Arus DC, tahanan dan fungsi lainnya.
2.      Pemilihan nilai batas ukur tegangan dan arus jangan, melebihi nilai yang diukur.
3.      Perhatikan polaritas colok alat ukur, jangan terbalik.
4.      Pahami betul titik-titik sambung pada breadboard
5.      Pahami betul-betul nomor kaki pada IC yang digunakan

F.     Langkah Kerja
Percobaan 1:
1.      Buatlah rangkaian penguat jembatan seperti pada gambar 2. Berikut
Rakitlah rangkaian jembatan wheatstone dengan 3 buah lengan resistor masing-masing 1Kohm. Lengan R= 1k ohm (pot). R1 dan R3 = 1K ohm. R2 dan R4 10K ohm.    
                       
2.      Berikan tegangan Vref=5 volt. Sambungkan tegangan supply +15V. 15V ke Ic 741.
3.      Atur R dekade = 1K ohm. Apakah V out jembt=0V? Bila tidak, atur R dekade sampai Vout jembt= 0 Volt.
4.      Ukurlah tegangan V0 (kaki 6 ic), apakah = 0 volt? Bila tidak, lakukan pengaturan dengan potensiometer 100 k ohm sebagai pengatur ZERO OFFSET.
5.      Lakukan pengaturan R dekade menurut harga pada tabel 1. Pengaturan setimbang ditetapkan pada posisi R dekade = 1000 ohm. Ukur tegangan VAC dan V0, pada Variasi Rf= 10k ohm dan Rf= 100k ohm.
6.      Setelah percobaan selesai, kembalikan semua alat dan bahan dengan tertib.

G.     Hasil Percobaan

Analisis
Dalam keadaan setimbang, Vout tidak dapat dalam kondisi 0 V, namun keadaan minimalnya 2.4 V saat Rf 10k ohm dan 0.22 V pada saat Rf 100 K ohm, pada rangkaian praktik kali ini saya menganalisis mengapa vout tidak dapat dalam kondisi 0 V, hal ini disebabkan karena penguatan tegangan dalam jembatan wheatstone sangat tinggi, padahal sudah ditambah ZERO OFFSET dengan tahanan maksimum 100 k ohm, mungkin kita bisa mendapat Vout dalam kondisi 0V jika diberikan tahanan yg tinggi pada ZERO OFFSET.

H.    Pertanyaan
1.      Gambarkan kurva hubungan antara variasi R dekade terhadap tegangan output (Vo).
2.      Bandingkan antara hasil perhitungan teoritik dengan hasil pengamatan.
Jawaban
1. 
2.      Jika dibandingkan dengan perhitungan pada teori jelas menimbulkan hasil yang berbeda walaupun tidak jauh, ini disebabkan karena pengaruh usia alat dan kabel penghubung yang sudah tua usia nya.


I.       Kesimpulan
Kesimpulan dari praktik kali ini bahwa rangkaian penguat jembatan wheatstone bertujuan untuk menguatkan suatu rangkaian yang membutuhkan tegangan besar dengan syarat pada keadaan setimbang diusahakan Vout dalam kondisi 0V sehingga mampu menghasilkan hasil yang maksimal.

LAPORAN INSTRUMENTASI : Rangkaian Jembatan Wheatstone

LAPORAN INSTRUMENTASI
Rangkaian Jembatan Wheatstone
Dosen Pengampu : Bekti Wulandari, M. Pd





Diusulkan oleh :
Imania Diah Rachma
(15507134009)
B1/2015




PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTONIKA & INFORMATIKA
TEKNIK ELEKTRONIKA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
A.  Kompetensi
Menjelaskan karakteristik rangkaian jembatan Wheatstone.

B.     Sub Kompetensi
1.      Membahas rangkaian jembatan Wheatstone
2.      Menghitung sensitivitas rangkaian jembatan Wheatstone
3.      Mengaplikasikan rangkaian jembatan Wheatstone
C.  Dasar Teori

Metode rangkaian jembatan Wheatstone merupakan cara penetuan tahanan yang tidak diketahui menggunakan metode perbandingan. Disebut rangkaian jembatan karena tersusun dari 5 buat tahanan yang posisinya bersilang, masing-masing tahanan ada yang menyebutnya sebagai lengan jembatan (bridge-arms). Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1.
                                   
                       










D.   Alat dan Bahan
1.      Catu daya DC 0-5V
2.      Rangkaian Jembatan Wheatstone
3.      Tahanan 1k ohm
4.      Galvanometer
5.      Kawat penghubung


E. Keselamatan Kerja
1.      Multimeter dalam pengukuran posisi saklar fungsi harus sesuai dengan besaran yang diukur, tegangan DC atau tegangan AC, Arus DC, tahanan dan fungsi lainnya.
2.      Pemilihan nilai batas ukur tegangan dan arus jangan, melebihi nilai yang diukur.
3.      Perhatikan polaritas colok alat ukur, jangan terbalik.
4.      Pahami betul titik-titik sambung pada breadboard
F.     Langkah Kerja
Percobaan 1:
1.      Buatlah rangkaian penguat jembatan seperti pada gambar 2. Berikut
                                         
2.      Berikan tegangan Vref = 5 volt. Atur R dekade = 1k ohm. Apakah VAC=0 volt?
3.      Pasanglah Rx=1000 ohm. Atur posisi dekade resistor menurut tabel 1. Amati tegangan. Berapakah nilai Rdekade pada saat setimbang?
4.      Aturlah variasi harga R dekade dari 1000 ohm, +1 ohm, +10 ohm, +20 ohm. Amati arus galvanometer lg, masukkan hasilnya pada tabel 1.
5.      Dari ketiga jenis variasi harga Rdekade, manakah yang lebih tinggi perubahan arus galvanometer terhadap perubahan harga tahanannya.
6.      Hitunglah nilai sensitivitasnya dari langkah 5

Analisis
Pada R dekade 1000 ohm, R1 1000 ohm, R2 1k ohm dan R3 1000 ohm posisi galvanometer setimbang, pada R dekade +1ohm mulai dari 990 ohm sampai dengan 1010 arus yang dihasilkan terus menurun, ini disebabkan karena R dekade semakin besar dan membuat arus yg dihasilkan nya semakin kecil. Begitu pada R dekade + 10ohm maupu +20ohm.
G.    Pertanyaan
1.      Dapatkah rangkaian jembatan wheatstone dipakai untuk mendeteksi kemanisan buat masak?
2.      Dapatkah jembatan dipakai untuk mengukur tingkat kekeringan gabah?
Jawaban
1.      Rangkaian jembatan Wheatstone dapat digunakan untuk mendeteksi kemanisan buah masak karena buah memiliki kadar air sehingga dapat menghantarkan listrik. Sedangkan untuk mendeteksinya sendiri dapat dilakukan dengan cara menghitung hambatan listrik yang mengalir melalui buah.
2.      Jembatan Wheatstone dapat digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan gabah dengan membaca berapa hambatan yang ditimbulkan oleh gabah tersebut karena setidaknya gabah mengandung sekitar 10% air yang bisa mengalirkan listrik.
H.    Kesimpulan
Kesimpulan dari praktik kali ini bahwa rangkaian jembatan wheatstone adalah berupa alat ukur yang di fungsikan untuk mengetahui hambatan yg tidak diketahui dengan cara menyeimbangkan dua kali dari rangkaian wheatstone, cara kerjanya mirip dengan potensiometer. Jembatan wheatstone adalah proses mengetahui menentukan suatu nilai hambatan listrik yang tepat. Dengan melakukan perbandingan antara besar hambatan yang telah diketahui dengan besar hambatan yang belum diketahui dengan keadaan jembatan disebut seimbang dengan galvanometer menunjukkan pada angka nol. Karena pengukuran dengan menggunakan Galvanometer dapat menghasilkan pengukuran yang tepat maka dari itu disebut presisi.


Kamis, 11 Februari 2016

Rangkaian Logika Sekuensional dan Konsekuensional

(Terkhusus bagi simplees yang doyan banget dengan hal hal simpel)
nih disini bakalan kita bahas soal apa itu rangkaian logika sekuensional,

I. Rangkaian sekuensial
Rangkaian sekuensial adalah adalah rangkaian logika yang kondisi keluarannya dipengaruhi oleh masukan dan keadaan keluaran sebelumnya atau dapat dikatakan rangkaian yang bekerja berdasarkan urutan waktu. Ciri rangkaian logika sekuensial yang utama adalah adanya jalur umpan balik (feedback) di dalam rangkaiannya.
  1. Flip-flop
Flip-flop adalah rangkaian utama dalam logika sequensial. Counter, Register,Memory, serta rangkaian sequensial lainnya disusun dengan menggunakan flipflop sebagai komponen utama. Flipflop adalah rangkaian yang mempunyai fungsi pengingat (memory). Artinya rangkaian ini mampu melakukan penyimpanan data sesuai dengan kombinasi masukan yang diberikan kepadanya. Ada beberapa macam flipflop yang akan dibahas yaitu RS flipflop, JK flipflop, D flipflop, dan T flipflop. Ciri utama dari flipflop adalah keluaran Q dan Q’ adalah selalu berlawanan / stabil (jika Q = 0 maka Q’ = 1, Jika Q = 1 maka Q’ =0). Karena kondisi dua keadaan stabil ini rangkaian flipflop dinamakan juga dengan rangkaian bistabil.
  1. counter
Rangkaian Counter (penghitung) adalah logika sekuensial yang dapat dipergunakan untuk menghitung jumlah pulsa masuk dan dinyatakan dengan bilangan biner. Sesuai dengan namanya 4 BIT Binary Counter adalah suatu rangkaian logika yang terdiri dari 4 buah Flip-Flop yang mampu melaksanakan perhitungan sampai bilangan 16.
  1. Register
Register adalah memori berukuran sangat kecil dengan kecepatan akses sangat tinggi. Register digunakan untuk menyimpan data dan instruksi yang sedang diproses, sementara itu data dan instruksi lainnya yang menunggu giliran diproses akan disimpan dalam main memory
  1. Memori
Memori adalah pusat dari operasi pada sistem komputer modern, berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi yang harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. Memori adalah array besar dari word atau byte, yang disebut alamat.
II. Rangkaian kombinasional
Rangkaian kombinasional adalah rangkaian yang outputnya hanya tergantung pada input ”pada saat itu”. Pada prinsipnya, rangkaian kombinasional merupakan penerapan dan penerjemah langsung dari aljabar boole, yang biasanya dinyatakan sebagai fungsi logika. Operator logika yang digunakan dalam aljabar boole adalah inversi/negasi (NOT), perkalian logika (AND), penambahan logika (OR). Contoh dari rangkaian kombinasional :
  1. Enkoder
Enkoder adalah rangkaian logika kombinasional yang berfungsi untuk mengubah atau mengkodekan suatu sinyal masukan diskrit menjadi keluaran kode biner.
  1. Dekoder
Rangkaian Dekoder mempunyai sifat yang berkebalikan dengan Enkoder yaitu merubah kode biner menjadi sinyal diskrit. Sebuah dekoder harus memenuhi syarat perancangan m < 2 n . Variabel m adalah kombinasi keluaran dan n adalah jumlah bit masukan. Satu kombinasi masukan hanya dapat mewakili satu kombinasi keluaran.
  1. Multiplexer
Rangkaian logika kombinasional Multiplexer atau disingkat MUX adalah alat atau komponen elektronika yang bisa memilih input (masukan) yang akan diteruskan ke bagian output (keluaran). Pemilihan input mana yang dipilih akan ditentukan oleh signal yang ada di bagian kontrol (kendali) Select.
  1. Demultiplexer
Rangkaian logika kombinasional Demultiplekser adalah Komponen yang berfungsi kebalikan dari MUX. Pada DEMUX, jumlah masukannya hanya satu, tetapi bagian keluarannya banyak. Signal pada bagian input ini akan disalurkan ke bagian output (channel) yang mana tergantung dari kendali pada bagian SELECTnya.